Kini Xi tetap berkuasa setelah menyingkirkan rival politik dan menghapus batas masa jabatan presiden. Sementara di AS, Trump kembali ke Gedung Putih.
Sebagian besar isu sejak 2015 belum terselesaikan atau justru memburuk. Perusahaan AS masih mencari akses pasar, serangan siber China meningkat, dan ketegangan di Laut China Selatan naik.
Xi tidak menyebut Taiwan dalam pernyataannya di Rose Garden pada 2015.
Namun saat menjamu Trump di Beijing pada Mei, Xi memperingatkan potensi benturan jika AS salah menangani pulau itu.
Pekan ini, Xi diperkirakan mendesak Trump menunda paket penjualan senjata ke Taiwan. Trump akan menyambut Xi pada Rabu malam di landasan Joint Base Andrews.
Ketergantungan Ekonomi dan Kekuatan Militer
AS adalah pasar ekspor terbesar China pada 2015 dengan porsi hampir seperlima dari ekspor 2,3 triliun dolar.
Kini AS tetap tujuan utama, tetapi porsinya turun menjadi 11 persen.
Ekspor global China justru naik menjadi lebih dari 3,7 triliun dolar pada 2025. AS membeli lebih sedikit karena tarif tinggi, sementara China memperluas pasar ke berbagai negara.
China juga naik dalam rantai nilai manufaktur global dan memperlebar jarak dengan AS. Pada 2015, China meluncurkan strategi nasional untuk manufaktur canggih.
Langkah itu membantu China mengurangi ketergantungan impor di bidang chip memori dan perangkat medis. Perusahaan China pun bersaing global di sektor drone hingga kendaraan listrik.
Kurt Campbell dari The Asia Group menilai ada kemajuan China yang tak terbantahkan di panggung global. Menurutnya, China bukan sedang datang, melainkan sudah tiba.
Kekuatan manufaktur Beijing berubah menjadi kekuatan militer. Kemampuan pembuatan kapal membuat China membangun armada terbesar di dunia berdasarkan jumlah kapal.