Bank Indonesia mengubah strategi intervensi di pasar valuta asing dengan mengurangi porsi di pasar spot dan memperbesar penggunaan instrumen kontrak berjangka.
Perubahan ini turut memengaruhi prospek instrumen investasi seperti Surat Utang Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan pengurangan intervensi di pasar spot dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Langkah tersebut dinilai lebih banyak menguras cadangan devisa. Saat ini porsi intervensi di pasar spot hanya sekitar 30% dari total intervensi BI.
BI lebih banyak melakukan intervensi melalui pasar kontrak berjangka valuta asing, seperti domestic non-deliverable forward (DNDF) dan non-deliverable forward (NDF).
Langkah Adaptif di Tengah Ketidakpastian Global
Guru Besar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai ini sebagai langkah adaptif di tengah tingginya ketidakpastian global.
Intervensi rupiah langsung di pasar spot menuntut bank sentral menggelontorkan likuiditas dolar AS secara fisik dan seketika.
Meskipun efektif meredam volatilitas jangka pendek secara agresif, strategi ini berbiaya sangat tinggi dan langsung menggerus posisi cadangan devisa apabila tekanan eksternal berlangsung berkepanjangan.
Menurut Rahma, penguatan instrumen DNDF dan NDF memberikan ruang stabilisasi yang lebih efisien karena penyelesaian transaksi dilakukan tanpa pertukaran fisik valas secara masif di pasar spot pada hari berjalan.
Langkah ini disebut bagian dari penyempurnaan bauran intervensi berlapis yang telah dibangun BI dalam beberapa tahun terakhir melalui pasar spot, DNDF, dan SBN di pasar sekunder.
Ketika tekanan eksternal membesar, misalnya akibat pergeseran kebijakan The Fed atau eskalasi risiko geopolitik, kejutan di pasar valas tidak lagi diredam dengan satu instrumen tumpul.
BI kini memilah medan juang, misalnya pasar spot diserahkan lebih banyak ke mekanisme pasar yang sehat untuk price discovery.
Sementara gejolak ekspektasional diredam melalui instrumen derivatif dan pengelolaan likuiditas rupiah domestik seperti SRBI dan SVBI.
Di tengah kondisi itu, kenaikan yield SUN tenor 10 tahun yang saat ini berada di kisaran 7,2% mencerminkan premi risiko global dan domestik yang masih cukup tinggi.
Bagi investor asing, risiko terbesar saat berinvestasi di SBN berdenominasi rupiah bukanlah risiko gagal bayar, melainkan risiko kurs.
Rahma menjelaskan, ketika BI mengurangi intervensi spot secara agresif, volatilitas harian nilai tukar rupiah berpotensi sedikit meningkat dalam jangka pendek.
Namun, penggunaan DNDF dan NDF yang efektif berfungsi sebagai safety net untuk meredam depresiasi yang ekstrem dan tidak terkendali.
Pergeseran strategi BI ini mengirim sinyal kehati-hatian fiskal-moneter yang di mata foreign funds berkualitas tinggi dipandang sebagai sinyal kredibilitas kebijakan yang positif.
Penggunaan instrumen likuiditas rupiah seperti SRBI, SVBI, dan optimalisasi pasar sekunder SBN secara paralel membuat BI tidak perlu mengorbankan likuiditas domestik secara berlebihan.
Bagi investor asing, pasar SBN yang likuid dengan transparansi pembentukan harga yang sehat di pasar sekunder adalah prasyarat mutlak.
Dengan membiarkan pasar spot dan sekunder berfungsi lebih natural tanpa intervensi fisik yang mendistorsi harga pasar secara permanen, kredibilitas yield curve SBN akan semakin tepercaya.
Dampak perubahan BI-Rate maupun dinamika likuiditas makro terhadap SRBI umumnya bersifat langsung dan sangat signifikan.
Instrumen ini dirancang sebagai pro-market tool untuk menarik aliran modal asing dan memperdalam pasar uang.
Ketika BI menyesuaikan suku bunga kebijakannya, yield lelang perdana dan sekunder SRBI akan bergerak menyesuaikan untuk menjaga spread yang menarik bagi investor domestik maupun asing.
Kenaikan atau penyesuaian imbal hasil SRBI sering kali memicu pergerakan suku bunga Pasar Uang Antar Bank dan instrumen pendanaan perbankan.
Bank harus bersaing ketat dengan atraktifnya yield SRBI yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Di satu sisi, instrumen ini memberikan alternatif penempatan aset yang aman bagi bank dan investor asing.
Namun di sisi lain, jika yield SRBI terlalu menarik, hal ini berpotensi memperketat likuiditas perbankan untuk ekspansi kredit jika tidak dikelola dengan hati-hati.
