Nilai tukar rupiah menguat ke posisi Rp 17.894 per dolar AS pada perdagangan Rabu (30/9/2026) pukul 03.59 EDT.
Data Bloomberg yang dilansir Investasi mencatat kenaikan 0,48% atau setara 87 poin di pasar spot, meski rupiah masih dibayangi tekanan sentimen global.
Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menguat 0,67% ke Rp 17.877 per dolar AS.
Posisi ini membaik dibandingkan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.998 per dolar AS.
Dinamika di sekitar level psikologis Rp 18.000 per dolar AS tetap menjadi fokus pengamatan pelaku pasar.
Tekanan Eksternal dan Proyeksi Ekonom
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai level psikologis Rp 18.000 yang sempat tersentuh merupakan cerminan fluktuasi nilai tukar.
Menurutnya, pergerakan jangka pendek masih akan menguji kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Tekanan utama datang dari luar negeri, seperti kenaikan suku bunga The Fed, imbal hasil obligasi AS, lonjakan harga minyak mentah, serta tingginya permintaan dolar AS oleh importir jelang penutupan kuartal III 2026.
"Bank Indonesia juga hadir di pasar melalui intervensi spot, NDF, dan DNDF, sehingga tekanan terhadap rupiah masih relatif dapat dibatasi," kata Yusuf.
Ia menambahkan peluang rupiah menguat menuju rentang Rp 17.700 hingga Rp 17.800 per dolar AS tetap terbuka, bergantung pada penurunan harga minyak mentah dan meredanya tekanan suku bunga AS.
Dari dalam negeri, kenaikan kumulatif BI-Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75% pada September serta cadangan devisa yang mencapai US$ 146,5 miliar menjadi penyangga stabilitas.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memproyeksikan rupiah jangka pendek bergerak pada rentang Rp 17.800 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Kenaikan indeks dolar AS dan ekspektasi kebijakan hawkish bank sentral negara maju berpotensi menaikkan yield obligasi pemerintah global sehingga menekan mata uang emerging markets.
Bank Indonesia telah menyesuaikan instrumen kebijakan valas dengan meningkatkan diskon instrumen hedging dan mengurangi porsi intervensi pasar spot demi menjaga cadangan devisa.
"Kenaikan BI Rate untuk merespons kondisi geopolitik yang belum mereda dan aksi hawkish bank sentral global lainnya bisa saja dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," ujar David.
Tekanan nilai tukar di area Rp 18.000 per dolar AS turut memengaruhi penyusunan APBN 2027, di mana pemerintah menetapkan asumsi rupiah sebesar Rp 17.500 per dolar AS dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$ 75 per barel.
Asumsi yang tergolong optimistis ini dinilai masih berada dalam rentang yang dapat dikelola melalui efisiensi belanja dan penyesuaian strategi pembiayaan.
