Standar pekerjaan ideal tidak lagi seragam bagi setiap kelompok usia.
Baby Boomer cenderung mengutamakan kestabilan penghasilan, sedangkan Gen Z lebih mempertimbangkan kebebasan menentukan pola kerja dan pilihan profesi.
Perbedaan ini menjadi gambaran perubahan cara masyarakat memandang keberhasilan profesional, dilansir dari Money.
Generasi X dan milenial juga memiliki prioritas tersendiri yang melengkapi gambaran tersebut.
Kondisi sosial, pengalaman hidup, serta harapan terhadap pekerjaan turut membentuk definisi masing-masing generasi mengenai karier yang layak dibanggakan.
Jalur profesional yang dahulu dianggap sebagai standar kesuksesan kini bukan lagi satu-satunya pilihan.
Sebagian pekerja muda mulai mempertanyakan apakah mengejar promosi dan menduduki jabatan tinggi sebanding dengan waktu serta energi yang harus mereka korbankan.
Ukuran keberhasilan karier di mata empat generasi
Bagi Baby Boomer, pekerjaan yang membanggakan erat kaitannya dengan kepastian pendapatan dan hubungan kerja jangka panjang.
Bertahan di satu perusahaan selama puluhan tahun sering kali dinilai lebih baik dibandingkan berpindah tempat kerja demi mencari pengalaman baru.
Selain penghasilan yang dapat diandalkan, reputasi profesi juga menjadi pertimbangan penting.
Pekerjaan seperti dokter, pengacara, pemilik usaha, serta profesi profesional lainnya memiliki nilai tersendiri karena dikenal luas oleh masyarakat.
Ukuran keberhasilan kelompok ini tidak semata-mata ditentukan oleh kekayaan.
Pengakuan terhadap profesi, reputasi yang jelas, dan masa kerja panjang turut membentuk pandangan mereka mengenai pekerjaan terhormat.
Generasi X menempatkan kemandirian sebagai prioritas.
Pengalaman melihat orang tua mengandalkan keamanan pekerjaan, sekaligus menyadari bahwa kondisi tersebut bisa berubah sewaktu-waktu, membentuk pendekatan Gen X yang lebih realistis terhadap dunia profesional.
Kelompok ini cenderung mengembangkan kemampuan yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.
Etos kerja tetap dihargai, tetapi pekerjaan tidak harus menjadi satu-satunya penentu identitas seseorang.
Jabatan tinggi maupun gelar profesional bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.
Seseorang yang mampu menjalankan bisnis sendiri atau mempunyai nama baik di bidang pekerjaannya juga dapat dipandang berhasil.
Dengan demikian, keterampilan yang berguna dan kemampuan bertahan tanpa terlalu bergantung pada satu perusahaan menjadi bagian penting dari definisi karier ideal bagi Gen X.
Milenial mencari makna dan kepuasan pribadi.
Penghasilan yang mencukupi tetap menjadi kebutuhan generasi milenial.
Namun, mereka juga mempertimbangkan apakah pekerjaan yang dijalani memberikan kebahagiaan dan sesuai dengan ketertarikan pribadi.
Menghabiskan 40 tahun untuk mengerjakan sesuatu yang tidak disukai demi mendapatkan gaji tetap bukan gambaran keberhasilan yang mereka inginkan.
Sebaliknya, kemampuan menjadikan kegemaran sebagai sumber pendapatan sering kali mendapat penghargaan.
Tujuan pekerjaan juga menjadi pertimbangan tersendiri.
Aktivitas profesional yang memberikan manfaat kepada orang lain atau membawa perubahan positif bagi komunitas dinilai dapat menghadirkan kepuasan lebih besar.
Selain makna pekerjaan, keseimbangan antara tanggung jawab profesional dan kehidupan pribadi turut diperhitungkan.
Karena itu, pendapatan dan jabatan bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan milenial.
Gen Z memilih jalur profesional yang fleksibel.
Gen Z memiliki cakupan pandangan yang lebih luas mengenai pekerjaan yang dapat menghasilkan pendapatan sekaligus memberikan pengakuan profesional.
Perkembangan teknologi digital membuka kesempatan memperoleh penghasilan melalui berbagai aktivitas di luar pekerjaan kantoran.
Pembuatan video, penjualan produk digital, siaran permainan, hingga pengembangan bisnis dari rumah menjadi beberapa pilihan yang tersedia.
Keberadaan peluang tersebut membuat jalur karier perusahaan tidak lagi dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan.
Asbach menjelaskan bahwa generasi ini lebih cenderung menentukan arah profesional berdasarkan pilihan dan aturan yang mereka tetapkan sendiri.
Fleksibilitas waktu serta kesempatan bekerja dari jarak jauh menjadi aspek yang disukai.
Keinginan menghindari kelelahan akibat pekerjaan atau burnout juga memengaruhi cara Gen Z menentukan pilihan profesional.
Mereka tidak ingin mengulangi pengalaman kelelahan kerja yang dialami generasi sebelumnya.
Oleh sebab itu, pekerjaan tidak harus memenuhi harapan orang tua ataupun mengikuti standar kesuksesan yang ditetapkan pihak lain.
Profesi di luar jalur konvensional tetap dapat menjadi pilihan selama mampu menghasilkan pendapatan dan sejalan dengan tujuan pribadi.
Perbedaan prioritas membentuk definisi karier ideal
Keempat generasi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan profesional mempunyai ukuran yang beragam.
Perbedaan usia dan pengalaman membentuk prioritas yang tidak selalu sama ketika seseorang menentukan pekerjaan yang dianggap terhormat.
Baby Boomer lebih menekankan keamanan pendapatan, reputasi profesi, dan loyalitas terhadap perusahaan.
Sementara itu, Gen X mengutamakan kemampuan mandiri serta keterampilan yang dapat digunakan untuk mempertahankan kehidupan profesional.
Di sisi lain, milenial mempertimbangkan kepuasan, tujuan pekerjaan, dan keseimbangan kehidupan.
Gen Z semakin menerima pilihan profesi yang tidak konvensional dengan mengutamakan fleksibilitas serta kebebasan menentukan arah karier.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan yang dianggap sukses tidak harus mengikuti satu pola tertentu.
Stabilitas, kemandirian, kepuasan pribadi, dan fleksibilitas menjadi empat aspek yang mewakili prioritas berbeda dalam kehidupan profesional setiap generasi.