PT Bank Neo Commerce Tbk (BNC) mencatat laba bersih setelah pajak Rp 430,98 miliar hingga kuartal III 2026.
Pencapaian ini ditopang peningkatan pendapatan bunga bersih dan efisiensi operasional untuk memperkuat fundamental bisnis.
Pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) mencapai Rp 1,69 triliun hingga September 2026.
Nilai tersebut meningkat secara berurutan sepanjang tiga kuartal pertama tahun ini.
Pada kuartal I 2026, NII tercatat Rp 548,14 miliar, lalu naik menjadi Rp 562,55 miliar pada kuartal II 2026.
Angka itu kembali meningkat menjadi Rp 576,04 miliar pada kuartal III 2026.
Pejabat Sementara Direktur Utama PT Bank Neo Commerce Tbk Adrian Soewardjo menyebut capaian ini bagian dari strategi penguatan fundamental sebelum tahap ekspansi berikutnya.
Ia menegaskan perusahaan terus mempertahankan profitabilitas, meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas aset, dan memastikan setiap langkah bisnis dilakukan terukur serta hati-hati.
Adrian menambahkan fondasi yang semakin kuat akan memberi kemampuan BNC tumbuh lebih sehat dan berkelanjutan ke depannya.
Efisiensi dan Permodalan
Dari sisi efisiensi, rasio Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) membaik menjadi 81,77% per September 2026.
Posisi itu lebih rendah dibandingkan 82,81% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Cost to Income Ratio (CIR) tercatat sebesar 31,45%, sejalan dengan peningkatan pendapatan perusahaan.
Struktur permodalan BNC juga menguat dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 53,40% pada kuartal III 2026.
Angka ini meningkat dari 46,73% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan CAR sejalan dengan pertumbuhan modal inti sebesar 10,41% secara tahunan menjadi Rp 4,35 triliun.
Kualitas kredit tercermin dari rasio Non Performing Loan (NPL) Gross 2,78% dan NPL Nett 0,27%.
Dalam pengelolaan pembiayaan, BNC telah menyalurkan kredit Rp 6,73 triliun dengan pendekatan selektif mempertimbangkan kualitas debitur dan profil risiko.
Adrian menjelaskan pengembangan bisnis tetap mengutamakan kualitas portofolio dan kontribusi setiap aktivitas usaha terhadap kinerja keuangan.
Menurutnya, strategi pertumbuhan bukan semata mengejar skala bisnis, melainkan memastikan setiap aktivitas memberi kontribusi sehat.
Disiplin pengelolaan portofolio kredit, penguatan proses operasional, dan pengembangan sumber pendapatan beragam menjadi elemen penting membangun bisnis tangguh.
Dari pendapatan nonbunga, Fee Based Income tercatat Rp 90,55 miliar hingga kuartal III 2026, tumbuh 5,67% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 11,86 triliun hingga September 2026.
Dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sebesar Rp 3,92 triliun dengan rasio CASA 33,05%.
Secara keseluruhan, total aset Bank Neo Commerce mencapai Rp 17,19 triliun pada kuartal III 2026 berdasarkan laporan kinerja perusahaan.