Penelitian baru mengungkap bahwa penyintas serangan jantung berisiko mengalami penurunan daya ingat lebih cepat.
Risiko kehilangan ingatan mereka meningkat 5 persen dibandingkan orang yang tidak pernah mengalami serangan jantung.
>>> Komisi VII DPR Minta Pemerintah Optimalkan UMKM Hadapi Goncangan Global
Studi ini melibatkan 20.000 orang dewasa kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat. Penelitian berlangsung selama kurang lebih satu dekade.
Para peneliti menemukan bahwa serangan jantung yang tidak terdiagnosis—dengan gejala ringan, tidak lazim, atau tidak disadari—juga berkontribusi pada penurunan kognitif.
Kelompok ini memiliki tingkat penurunan kognitif yang lebih tinggi.
Penjelasan Ahli
Penulis utama studi, Mohamed Ridha, MD, mengatakan bahwa penyintas serangan jantung termasuk kelompok berisiko tinggi. Ia adalah asisten profesor neurologi di The Ohio State University, Amerika Serikat.
“Seiring bertambahnya usia, risiko masalah kognitif dan demensia meningkat. Beberapa orang mungkin memiliki risiko penurunan kognitif yang lebih tinggi,” kata Ridha.
Direktur neurologi vaskular di University of Illinois, Fernando Testai, MD, PhD, menjelaskan bahwa kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dapat memicu gangguan kognitif.
Hal ini terjadi melalui berkurangnya aliran darah ke otak, peradangan, kerusakan pembuluh darah, stroke diam, atau cedera otak.
Profesor neurologi di Loyola University, Michael J. Schneck, MD, menambahkan bahwa pasien dengan faktor risiko kardiovaskular juga berisiko lebih besar terkena penyakit Alzheimer.
>>> Taiwan Minta AS Lanjutkan Penjualan Senjata demi Stabilitas Kawasan
Faktor risiko tersebut meliputi hipertensi, kolesterol tinggi, dan diabetes.
Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme spesifik di balik hubungan serangan jantung dan penurunan kognitif.
Para ahli juga ingin tahu apakah intervensi setelah serangan jantung dapat menurunkan risiko demensia.