Seorang Generasi Z asal Makassar, Bulqis, akhirnya menemukan pekerjaan setelah bergabung menjadi petugas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebelumnya, ia sempat hampir putus asa karena pencarian kerja yang tak kunjung membuahkan hasil.
>>> Presiden Prabowo Panggil Menteri Ekonomi dan Gubernur BI ke Istana
Bagi Bulqis, dapur Program MBG bukan sekadar tempat memasak, melainkan ruang belajar tentang hidup, proses, dan motivasi.
Ia mengaku sebagai bagian dari generasi muda, tidak betah hanya diam di rumah.
Dalam keterangannya di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026, Bulqis mengatakan bahwa hari-harinya terasa kosong dipenuhi pencarian kerja sebelum bergabung dengan SPPG.
"Senang karena ada kegiatan setiap hari," katanya.
Di dapur SPPG Biringkanaya 03, Makassar, ia menemukan ritme baru. Aktivitas padat, tim beragam usia, serta dinamika kerja tinggi justru membuatnya merasa hidup.
Sebagai Gen Z, pengalaman ini terasa unik.
"Seru karena bisa ketemu banyak orang dan dapat banyak pengalaman," tuturnya.
Namun, di balik kata seru, ada proses yang tidak selalu mudah.
Pekerjaan fisik dimulai sejak subuh, tekanan untuk tetap produktif, hingga tanggung jawab membagi waktu dengan kuliah menjadi tantangan tersendiri.
>>> Kalteng Expo 2026: Ajang Promosi Investasi dan Penguatan UMKM
Bulqis memilih cara sederhana untuk menghadapinya: "Ikhlas dan sabar saja, nanti terasa mengalir," ucapnya.
Dari dapur itulah, ia belajar tentang arti ketekunan. Ia merasa menjadi lebih disiplin, mandiri, dan percaya diri menghadapi masa depan.
Program MBG, dalam pandangannya, bukan hanya memberikan manfaat bagi penerima makanan, melainkan juga menciptakan ruang pemberdayaan bagi anak muda.
Ruang di mana seseorang seperti Bulqis bisa belajar, bekerja, dan bertumbuh.
Salah satu momen yang paling ia ingat adalah ketika menyadari bahwa pekerjaannya memiliki dampak nyata, bukan hanya bagi orang lain, tetapi juga bagi dirinya sendiri.
Dari dapur itu, ia tidak hanya mendapatkan penghasilan, tetapi juga makna.
Bulqis mengaku bahwa pekerjaan fisik yang dimulai sejak subuh, tekanan untuk tetap produktif, dan tanggung jawab membagi waktu dengan kuliah menjadi tantangan tersendiri.
Namun, ia memilih untuk menghadapinya dengan ikhlas dan sabar.
Dari pengalaman di dapur SPPG, Bulqis belajar tentang ketekunan dan bagaimana menjalani sesuatu meski terasa berat.
>>> Telkom Siap Dukung Transformasi Digital BUMN dengan Cloud dan AI
Ia merasa pengalaman itu perlahan membentuk dirinya menjadi lebih disiplin, mandiri, dan percaya diri.