Korea telah lama memiliki panggung acara realitas kuliner yang besar, dimulai dengan "MasterChef Korea" dan disusul seri "Korean Food War", sebelum mencapai puncak baru dengan "Culinary Class Wars" yang menarik perhatian mancanegara.
Namun, setelah pesta penutupan, para produser dihadapkan pada pertanyaan: apa selanjutnya?
>>> Ador Ungkap Alasan Gugat Danielle NewJeans di Tengah Spekulasi Comeback
Mereka segera menemukan jawabannya, dan bukan dengan mengirim para koki kembali ke dapur untuk bertarung satu sama lain lagi.
Sebaliknya, sejumlah acara varietas kuliner baru mulai menggunakan format memasak yang jarang terlihat sebelumnya.
Kini, para koki dilempar ke turnamen bertahan hidup yang menguji apakah mereka bisa mengubah makanan menjadi bisnis yang layak, atau dikirim kembali ke anak tangga terbawah hierarki dapur untuk menjalani kembali masa awal karier mereka.
Mengelola Dapur Tidak Cukup
"Street Restaurant Fighter", yang tayang perdana di tvN pada 21 Juni, menghadirkan beberapa koki paling terkenal dari berbagai spesialisasi kuliner untuk menentukan siapa yang paling sukses menjalankan bisnis makanan.
Jajaran pesertanya dipenuhi nama-nama terkemuka, mulai dari master masakan Cina Lee Yeon-bok dan Edward Kwon, mantan kepala koki di Burj Al Arab Dubai, hingga Kim Mi-ryung yang dikenal luas sebagai "Auntie Omakase" dari "Culinary Class Wars".
Berbeda dengan acara memasak sebelumnya, nama dan reputasi terkenal itu dirahasiakan sepenuhnya. Kriteria penilaiannya juga berbeda.
Koki tidak dinilai dari kehalusan atau kerumitan makanan mereka, tetapi apakah mereka bisa membujuk pelanggan untuk membuka dompet.
Mereka diuji seberapa baik mereka memahami apa yang diinginkan pengunjung biasa, menganalisis pasar lokal, dan menyusun strategi pemasaran yang efektif.
Para koki bersaing bukan hanya siapa yang membuat makanan terbaik, tetapi siapa yang bisa mengubah makanan itu menjadi bisnis yang layak, seperti di kehidupan nyata.
