Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Manila, Rabu (22/7), di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri ASEAN.
Rubio mengatakan kedua pihak membahas perlunya mengidentifikasi area kerja sama untuk mempersiapkan kunjungan Presiden China Xi Jinping ke Washington pada September mendatang.
>>> Spanyol dan Prancis Lawan Kebakaran Hutan di Tengah Gelombang Panas
"Pekerjaan yang perlu kami lakukan sekarang hingga September adalah mengidentifikasi area-area tersebut, sehingga kami dapat mempersiapkan kunjungan yang sangat positif," ujar Rubio kepada wartawan.
Ia mengakui adanya perbedaan besar antara kedua negara, namun menekankan pentingnya mengelola perbedaan tersebut agar tidak lepas kendali.
"Kami akan selalu membela kepentingan nasional kami, dan saya kira mereka juga akan melakukan hal yang sama. Namun ada beberapa area potensial untuk kerja sama," tambahnya.
Pertemuan yang berlangsung sekitar 90 menit itu terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh antara dua ekonomi terbesar dunia.
Rubio menegaskan bahwa tuduhan campur tangan China dalam pemilu AS tidak dibahas dalam pertemuan tersebut.
Hubungan AS-China yang tegang belakangan lebih stabil setelah kesepakatan dagang sementara yang dicapai oleh Trump dan Xi pada Oktober lalu.
>>> Laba Equinor Lampaui Ekspektasi di Tengah Gejolak Pasar Energi
Kedua pemimpin telah bertemu di Beijing pada Mei, dan China menyatakan Xi akan melakukan kunjungan kenegaraan ke AS pada musim gugur.
Rubio juga mengatakan bahwa isu Taiwan dan perdagangan dibahas, serta Dewan Perdagangan bilateral.
Ia menekankan pentingnya kedua negara tetap menjalin hubungan meskipun ada perbedaan, mengingat dampak besar mereka terhadap ekonomi global.
Dalam opini yang diterbitkan media Filipina sebelum pertemuan, Rubio mengkritik perilaku China di Laut China Selatan dan menyebut sekutu AS menghadapi ancaman koersif baru.
Ditanya tentang insiden antara penjaga pantai China dan personel angkatan laut Filipina pada Senin, Rubio menyebutnya sebagai eskalasi yang tidak menguntungkan siapa pun.
>>> Fasilitas Bengkel Bandara Kertajati Dikebut, Target Beroperasi Tahun Ini
Ia menegaskan kembali komitmen AS untuk memenuhi kewajiban perjanjian pertahanan dengan Filipina.
