Kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran mengaku telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah pada Kamis (23/7).
Serangan ini berpotensi memperluas perang Iran dan mendorong harga minyak internasional menembus $100 per barel.
>>> Baru Sepekan, Hotman Paris Mundur dari Tim Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz.
AS telah melancarkan serangan udara selama 12 malam berturut-turut di Iran, sementara Presiden Donald Trump mengancam akan memberikan "hukuman militer besar" terhadap Houthi jika serangan terhadap kapal terus berlanjut.
Trump menulis di media sosial bahwa jika Houthi menyerang lagi, AS akan meminta pertanggungjawaban Iran karena Houthi adalah "surrogate atau proxy Iran".
Ancaman itu disertai peringatan bahwa hukuman militer besar akan dijatuhkan kepada Iran dan Houthi.
Dampak Ekonomi dan Harga Minyak
Harga minyak mentah Brent, standar internasional, melonjak lebih dari 6 persen pada Kamis menjadi sekitar $100 per barel.
Ini merupakan level tertinggi sejak Mei lalu, sebelum kesepakatan damai sementara yang kini telah gagal.
Serangan Houthi terhadap kapal tanker Encelia dan Layla di Laut Merah menyebabkan kebakaran di kedua kapal, namun tidak ada laporan korban jiwa.
Ini adalah serangan pertama terhadap kapal sejak Houthi mengumumkan blokade terhadap pelayaran yang terkait dengan Saudi di Selat Bab el-Mandeb.
Bab el-Mandeb merupakan titik rawan pelayaran vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Sekitar 12 persen perdagangan dunia, termasuk seperempat lalu lintas kontainer global, melewati jalur ini.
Ketegangan di Selat Hormuz
Iran menyatakan memiliki hak untuk mengelola lalu lintas dan berpotensi memungut biaya di Selat Hormuz, yang sebelumnya terbuka untuk semua dan bebas tol.

