Gelombang migrasi besar-besaran dari Maroko ke wilayah Spanyol, Ceuta, dipicu oleh rumor yang tersebar di media sosial.
Sekitar 60.000 orang mencapai Ceuta dalam beberapa hari, menjadikannya lonjakan migrasi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
>>> Gerakan 'Kecoa' Gen Z India Guncang Citra Politik Modi
Semuanya bermula dari unggahan Instagram yang mengklaim perbatasan Spanyol-Maroko akan dibuka. Kemudian, pengguna Facebook mulai melacak patroli penjaga pantai, sementara video TikTok menunjukkan rute berenang.
Setelah banyak dibagikan, ribuan warga Maroko yakin Eropa dapat dijangkau.
Kekacauan di Pemecah Gelombang
Saat para migran tiba di pantai Ceuta, kekacauan terjadi di pemecah gelombang beton yang sempit. Banyak orang berdesakan dan saling memanjat untuk mencapai daratan.
Beberapa saksi melihat orang-orang terdorong ke air dan tertindih oleh mereka yang berusaha naik. Setidaknya 72 orang tewas di sisi Spanyol dan 11 lainnya di sisi Maroko.
Kesalahpahaman soal Kebijakan Spanyol
Sebagian migran salah memahami langkah-langkah imigrasi baru Spanyol, termasuk kebijakan regularisasi Perdana Menteri Pedro Sánchez.
Kebijakan itu hanya berlaku bagi mereka yang sudah tinggal di Spanyol sebelum 1 Januari, tetapi banyak yang percaya mereka akan diizinkan tinggal.
Keyakinan itu menyebar luas di media sosial.
Seorang migran, Adam Assil, mengaku kecewa karena merasa dijanjikan pekerjaan dan dokumen, meskipun Sánchez tidak pernah membuat janji semacam itu.
>>> Cara Ikut Pemutihan Pajak Kendaraan Jakarta Agustus 2026, Simak Syarat dan Ketentuannya
Kegagalan di Kedua Sisi Perbatasan
Otoritas Maroko menyalahkan eksploitasi dunia digital dan penyebaran informasi salah. Mereka membuka penyelidikan, sementara Spanyol juga mengeluarkan pernyataan serupa.
Pejabat Ceuta mengaku telah memperingatkan pemerintah Spanyol tentang lonjakan kedatangan, tetapi Kementerian Dalam Negeri Spanyol membantah menerima laporan tersebut.
