Para pemimpin Iran yakin kemenangan mereka di Selat Hormuz sudah di depan mata, tanpa perlu menunggu 9.000 tahun seperti nama selat tersebut yang diambil dari dewa Zoroaster.
Mereka bertaruh bahwa tekanan militer pada akhirnya akan memaksa Amerika Serikat menerima kendali Iran atas jalur air penting bagi energi global.
>>> Akun Instagram Ning Najma Tsuroyya Dicari Usai Menikah dengan Kadam Sidik
Mereka merasa waktu berpihak pada mereka.
Iran mengetahui stok senjata kunci AS seperti pencegat rudal canggih semakin menipis. Mereka juga tahu perang ini sangat tidak populer di kalangan rakyat Amerika.
Selama selat itu sebagian besar ditutup, harga bensin dan barang-barang lain akan tetap tinggi menjelang pemilihan kongres AS pada November.
Membuka paksa selat itu akan mahal dan mungkin membutuhkan pasukan darat AS.
Iran juga tahu sekutu Houthi mereka di Yaman dapat memperluas perang dan mengganggu jalur perdagangan utama lainnya.
Dengan logika itu, Presiden AS Donald Trump tidak punya pilihan selain menyerah.
Strategi Berisiko
Namun, strategi Iran mengandung risiko. Trump menunjukkan serangan yang telah menghancurkan kepemimpinan tertinggi Iran, angkatan laut, dan angkatan udara.
Ia bergantian antara mengancam eskalasi dan mengatakan pembicaraan berjalan baik.
Ekonomi Iran sendiri telah terpukul, sebagian karena blokade AS. Rakyat Iran bangkit dalam protes massal beberapa bulan lalu dan bisa melakukannya lagi.
Para pemimpin Iran hanya perlu melihat bagaimana 'ekskursi jangka pendek' Trump ke Timur Tengah telah berlarut-larut untuk diingatkan bahwa perang jarang berjalan seperti yang diharapkan.
Kesepakatan yang Berkembang Bisa Memberi Kemenangan Besar bagi Iran
Iran mengatakan hampir mencapai kesepakatan dengan Oman untuk mengelola selat yang membentang di antara kedua negara itu.
