Penempatan dana wakaf Masjid Istiqlal pada instrumen saham menjadi sorotan sebagian masyarakat. Mereka menilai keputusan investasi dana umat itu berisiko tinggi.
Sorotan publik muncul setelah Menteri Agama Nasaruddin Umar membanggakan langkah tersebut di bursa efek.
Menurut Nasaruddin, Masjid Istiqlal menjadi masjid pertama yang masuk ekosistem Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pengelolaan wakaf tunai secara produktif.
"Pertama kali masjid yang masuk Bursa Efek adalah Masjid Istiqlal.
Wakaf tunai yang kami kumpulkan bekerja sama dengan Bursa Efek sehingga ada pemberdayaan ekonomi umat," ujarnya di Jakarta pekan lalu.
Nasaruddin menjelaskan dana tersebut tidak ditempatkan dengan skema deposito, melainkan dikelola sebagai wakaf produktif.
Sebagian keuntungan dari pengelolaan investasi itu kemudian dikembalikan kepada umat melalui berbagai program yang dijalankan Masjid Istiqlal.