Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah adanya pembicaraan dengan Iran, baik yang sedang berlangsung maupun yang dijadwalkan.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui unggahan di Truth Social pada Selasa (19/8/2026).
>>> Gugatan 29 Negara Bagian AS terhadap Meta Mulai Disidang, Bisa Ubah Instagram dan Facebook
Trump juga menegaskan bahwa blokade laut terhadap Iran tetap berlaku penuh. Ia mengklaim Selat Hormuz terbuka dan beroperasi, serta semua ranjau air telah disingkirkan atau diledakkan.
Pernyataan Trump itu bertentangan dengan klaim Iran yang menyebut Selat Hormuz masih ditutup untuk pelayaran.
Sebelumnya, negosiator utama Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengatakan selat itu akan tetap ditutup hingga AS memenuhi syarat-syarat kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.
Kebuntuan Diplomatik dan Dampaknya
Gencatan senjata sementara berakhir pada Senin (18/8/2026).
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa negaranya beralih ke postur militer 'sepenuhnya ofensif' akibat kebuntuan diplomatik.
Meski demikian, belum ada laporan serangan baru dari kedua belah pihak pada Selasa. Kebuntuan ini mendorong kenaikan harga minyak dan membuat pasar saham melemah.
Data pelayaran awal menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz pada Senin masih di bawah sepuluh.
United Kingdom Maritime Trade Operations melaporkan sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di selat tersebut, menyebabkan kerusakan ruang mesin dan korban kru.
>>> 5 HP Murah 1 Jutaan Terbaik 2026: 5G, Layar 120Hz, dan Baterai 6000 mAh
Sikap Iran dan Prospek Negosiasi
Qalibaf menyebut syarat-syarat yang harus dipenuhi AS meliputi pencabutan blokade pelabuhan Iran, pencabutan sanksi minyak, pembebasan aset beku Teheran, dan penghentian ancaman serta operasi militer di semua lini.
Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 17 Juni menetapkan tenggat 60 hari untuk kesepakatan yang lebih luas mengenai program nuklir Iran dan sanksi AS.
