Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada Kamis (3/9/2026) menjatuhkan sanksi baru terhadap Kuba.
Langkah ini disebut sebagai upaya untuk semakin menekan ekonomi pulau tersebut di tengah berbagai krisis yang melanda.
Sanksi tersebut menyasar Fidel Ernesto Castro, cucu dari mantan Presiden Kuba Raúl Castro.
Selain itu, Perusahaan Impor Pasokan Industri Minyak Kuba yang dikenal sebagai Abapet juga masuk daftar sanksi.
Abapet bertanggung jawab mengimpor peralatan khusus dan suku cadang yang dibutuhkan untuk menjaga jaringan listrik Kuba yang sudah rapuh.
Sanksi ini bertujuan untuk melumpuhkan mesin-mesin penting dan memperburuk krisis energi di negara itu.
Brett Erickson, pakar sanksi dan mitra pengelola di Obsidian Risk Advisors, mengatakan bahwa AS berusaha menekan Kuba sekuat mungkin.
"Pemerintahan Trump tampaknya tidak serius menerima perubahan dari Kuba kecuali penggulingan rezim," ujarnya.
Erickson merujuk pada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang dikenal keras terhadap Kuba. Ia memperkirakan pemerintah Kuba akan mencoba menghindari sanksi karena mereka harus melakukannya.
"Mereka akan kreatif dalam mencoba mendapatkan suku cadang perawatan ini," kata Erickson.
Namun, ia memperingatkan bahwa alternatif tersebut akan lebih mahal, yang pada gilirannya akan meningkatkan inflasi dan semakin merugikan ekonomi Kuba.
Pemadaman listrik di seluruh pulau semakin sering terjadi.
Gangguan harian di Kuba kini melebihi 24 jam karena jaringan listrik yang menua dan cadangan bahan bakar yang menipis.
Kondisi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump pada akhir Januari mengancam tarif terhadap negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba.
Ancaman tersebut semakin memperparah krisis energi di pulau itu.