Meski demikian, pasar tetap gelisah dan para ahli menyebut Houthi sangat sulit diprediksi.
Harga minyak mentah pekan ini kembali melonjak di atas 100 dolar per barel, memberi Teheran lebih banyak pengaruh dalam negosiasi apa pun.
Respons Saudi yang Lambat Mengejutkan Pemerintah Yaman
Houthi telah menyerang pelayaran Saudi di Laut Merah sejak mendeklarasikan blokade pada Juli, serta infrastruktur minyak di dalam Arab Saudi.
Pemberontak mengatakan mereka bertindak sebagai respons atas blokade kerajaan selama bertahun-tahun terhadap wilayah Yaman yang dikuasai Houthi.
Seorang pejabat militer senior dari pemerintah Yaman yang diakui internasional mengatakan mereka terkejut angkatan udara Saudi tidak berusaha mencegah perebutan Mokha.
Mokha berada dalam jarak 50 mil atau 80 kilometer dari selat.
Pejabat itu menilai Arab Saudi tidak mendapat lampu hijau dari Amerika Serikat untuk melancarkan kampanye udara skala besar.
Pejabat tersebut, yang berbicara anonim karena tidak diizinkan berbicara kepada media, juga menyalahkan kurangnya koordinasi antara tentara Yaman dan berbagai milisi sekutu.
Menurutnya, hal itu memberi Houthi peluang yang tak ternilai.
Pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb turun sekitar 60 persen sejak Houthi mulai menyerang sejumlah kapal di sana pada akhir 2023.
Saat itu Houthi menyatakan solidaritas dengan Palestina di Gaza.
Pelayaran sempat meningkat tahun ini ketika Arab Saudi mencari alternatif Selat Hormuz.
Namun ancaman Houthi yang kembali muncul telah membatasi aktivitas itu, menurut Lloyd's List Intelligence.
Hal itu memaksa Arab Saudi mencari alternatif lain lagi, mengirim minyaknya ke utara dari Laut Merah menuju Mediterania.
Rute itu bisa melalui Terusan Suez atau pipa melalui Mesir, jalur yang jauh lebih panjang bagi pelanggannya di Asia.