Remaja Prancis memblokade sejumlah sekolah menengah dan menggelar aksi jalanan di berbagai kota pada Kamis.
Pemerintah berjanji menanggapi keluhan soal kekurangan guru dan gedung sekolah yang rusak, namun belum memberikan rincian konkret.
Gelombang protes yang kini memasuki pekan ketiga itu memperlihatkan ketegangan di Prancis.
Di satu sisi ada tuntutan investasi untuk layanan publik yang memburuk, di sisi lain pemerintah tengah tertekan pasar obligasi untuk menekan utang dan defisit.
Massa besar berunjuk rasa di Paris dan sejumlah daerah, dari Lille di utara hingga Rennes dan Nantes di barat, serta Toulon dan Marseille di selatan.
Aksi berlangsung damai, meski terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa di beberapa titik di Paris dan Nantes.
Di Rennes, polisi menyerbu kerumunan dan menggunakan meriam air. Di kawasan Bastille, Paris, polisi juga menyerbu pengunjuk rasa dan menyemprotkan meriam air saat senja turun.
Seorang guru sekolah menengah, Diane Di Sciullo, ikut bergabung dengan siswa dalam aksi besar di Marseille. Ia mengatakan mereka hanya menuntut pendidikan yang layak dalam kondisi yang layak.
Di Sciullo mengeluhkan kelas yang kelebihan kapasitas. Tahun ini, katanya, ia mengajar 37 siswa dalam satu kelas.
Setiap awal pelajaran, ia harus meminta siswa memeriksa ruang kelas tetangga untuk mencari kursi dan meja cadangan agar mereka bisa belajar.
Guru berusia 28 tahun itu membawa plakat bertuliskan, "Saya guru dan siswa saya membantu saya menangkap kecoa di kelas."
Pemerintah janji tindakan cepat
Data kementerian pendidikan menunjukkan jumlah pemblokiran sekolah perlahan menurun.
Pada pagi hari, 224 sekolah ditutup, lalu turun menjadi 157 pada waktu makan siang, yang berarti 96 persen sekolah tetap buka.
Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan setelah bertemu siswa dan guru di Reims bahwa ia meluncurkan rencana darurat untuk memastikan guru yang tidak hadir digantikan.
Jadwal pelajaran yang padat juga sedang ditinjau.
Di Prancis, remaja memang kerap belajar dari pukul 08.00 hingga 18.00, ditambah banyak pekerjaan rumah.
Geffray juga menyatakan sedang mengkaji perbaikan Parcoursup, portal pendaftaran universitas nasional yang banyak dikritik karena membingungkan dan membuat stres pelamar.
Perdana Menteri Sebastien Lecornu pada Rabu malam berjanji pemerintah akan menyampaikan "respons konkret, cepat, dan sepenuhnya didanai" atas protes tersebut pada akhir Oktober, tanpa merinci bentuknya.
Pemimpin protes mahasiswa menilai janji itu belum cukup dan menyerukan aksi lanjutan pada Selasa depan. Seruan untuk hari protes pada 17 Oktober juga beredar daring.
"Tuntutan kami harus didengar. Kemarin, Tuan Lecornu hanya memberi kami angin surga," kata Ryad Rani, pemimpin salah satu serikat mahasiswa.
"Mobilisasi akan berlanjut, kami tidak mundur dalam hal apa pun."
Keluhan menonjol yang muncul di spanduk dan plakat adalah respons polisi yang dianggap terlalu keras.
Salah satu contohnya berbunyi, "Terlalu muda untuk didengar, cukup tua untuk digas air mata."
Sejak gerakan dimulai, telah terjadi ratusan penangkapan dan puluhan luka. Pada Rabu, pemerintah menghentikan penggunaan granat kejut dalam pengamanan protes setelah tangan seorang remaja terputus.
Respons politik dan polarisasi menjelang pemilu
Enam bulan menjelang pemilihan presiden, protes ini menyoroti polarisasi tajam antara kandidat utama pengganti Emmanuel Macron, yang tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga.
Kandidat terdepan dari sayap kanan, Marine Le Pen, menyoroti kerusakan sekolah akibat segelintir pengunjuk rasa dan memaparkan rencana memangkas belanja publik jika menang.
Lawannya dari kiri keras, Jean-Luc Melenchon, yang juga berpeluang masuk putaran kedua, memuji pengunjuk rasa sebagai "luar biasa" dan mengecam kebrutalan polisi.
Menurut jajak pendapat Elabe untuk BFM TV, 72 persen warga Prancis menilai tuntutan siswa sah, tetapi 55 persen di antaranya menilai protes sebaiknya dihentikan.
Pada Kamis, protes pelajar juga berlangsung di kota-kota Belgia, yakni Brussels, Ciney, dan Liege.
Keluhan mereka meliputi biaya yang meningkat, kelas yang penuh sesak, sumber daya terbatas, dan beban kerja guru yang bertambah.
Di Liege, polisi menyebut hampir 200 penangkapan terkait protes pelajar bulan ini.
Otoritas setempat memberlakukan larangan pertemuan publik lebih dari tiga orang hingga 16 Oktober, namun polisi menyatakan pertemuan di depan universitas kota itu diizinkan.
