Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) bergerak anomali pada perdagangan Jumat (6/11/2026). Hingga sekitar pukul 14.30 WIB, saham emiten teknologi itu sempat melonjak 12,50 persen ke level Rp27, dengan nilai transaksi menembus Rp463,26 miliar.
Lonjakan itu mencolok karena dalam empat hari bursa sebelumnya, saham GOTO selalu ditutup stagnan di Rp24. Nilai transaksi tertingginya pun hanya Rp115,26 miliar yang terjadi pada 4 November 2026. Pada Jumat siang, nilai transaksi GOTO sudah empat kali lipat dari angka tersebut. Pergerakan ini membuat GOTO menjadi salah satu saham yang paling banyak dicari pada perdagangan akhir pekan, di tengah IHSG yang pada penutupan Jumat (6/11/2026) menguat 0,40 persen ke level 5.050,43.
Pembatalan 32 Miliar Saham Treasuri Jadi Sorotan
Perhatian pasar tertuju pada langkah GOTO membatalkan 32 miliar lembar saham treasuri, setara sekitar 2,7 persen dari total saham beredar. Rencana tersebut telah disetujui pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 14 Oktober 2026.
Analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, menilai langkah ini memberi manfaat nyata bagi pemegang saham, karena mengurangi jumlah saham perusahaan yang beredar secara permanen. Pembatalan saham treasuri umumnya dipandang positif karena dapat meningkatkan nilai per lembar saham yang tersisa.
Laba Rp441 Miliar dan Arus Kas yang Membaik
Perbaikan fundamental GOTO terlihat dari pencapaian laba bersih Rp441 miliar pada kuartal III-2026. Pencapaian itu memperpanjang tren profitabilitas perusahaan selama tiga kuartal berturut-turut di tengah tantangan pada sebagian bisnisnya.
Perusahaan juga mencatat arus kas bebas yang disesuaikan sebesar Rp1,21 triliun pada kuartal III-2026, tumbuh 389 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio nilai perusahaan terhadap EBITDA atau EV/EBITDA GOTO tercatat sekitar 3,3 kali.
Menurut Abdul Azis, saham GOTO saat ini diperdagangkan dengan diskon sekitar 75 persen dibandingkan perusahaan sejenis berdasarkan pendekatan EV/EBITDA, karena rata-rata perusahaan pembanding di sektor layanan daring dan teknologi finansial mencapai 13 hingga 14 kali.
Buyback Masih Berjalan
Hingga 29 Oktober 2026, perusahaan telah menggunakan sekitar Rp985 miliar untuk membeli kembali 36 miliar lembar saham. GoTo menyebut masih memiliki alokasi dana sekitar Rp2,5 triliun untuk melanjutkan program pembelian kembali saham berdasarkan persetujuan yang berlaku hingga Juni 2027.
Manajemen juga menaikkan target EBITDA grup yang disesuaikan sepanjang 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun, dari target sebelumnya Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Meski begitu, penguatan satu hari perdagangan belum cukup untuk memastikan saham GOTO telah keluar dari tren penurunan. Perlu dicatat, artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan sebagai rekomendasi untuk membeli, menjual, atau menahan saham tertentu. Seluruh data harga dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan perdagangan di Bursa Efek Indonesia.