Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty memproyeksikan dampak pelemahan rupiah mulai terlihat pada inflasi bulan Mei 2026.
Hasil perhitungan inflasi tersebut akan diumumkan secara resmi pada awal Juni mendatang.
>>> Legislator Desak Tak Boleh Ada Pembiaran Kekerasan WNI di Luar Negeri
"Imported inflation akibat pelemahan rupiah dapat mulai dirasakan di Mei.
Kelompok pengeluaran yang paling terdampak adalah yang terkait dengan komponen tinggi impor," kata Telisa saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Senin.
Komoditas yang berpotensi paling terdampak antara lain obat-obatan, elektronik, otomotif, petrokimia, gandum, peralatan berat, hingga telekomunikasi.
Tanda-tanda pengaruh pelemahan kurs rupiah terhadap inflasi nasional sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa bulan terakhir.
Hal itu tercermin dari tren peningkatan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB).
Rupiah tercatat terus melemah sejak awal tahun dan nilainya sudah menurun 5,99 persen terhadap dolar AS secara year-to-date (ytd).
IHPB Terus Naik
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat IHPB terus mengalami kenaikan setiap bulan. Angkanya naik dari 106,00 pada Januari 2026 menjadi 109,07 pada April 2026.
Angka pada April lalu menunjukkan kenaikan IHPB sebesar 3,81 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
"Biasanya, Indeks Harga Perdagangan Besar akan memengaruhi inflasi IHK (Indeks Harga Konsumen)," ucap Telisa.
>>> Wamenko Pangan: Kehutanan Penopang Ketahanan Pangan Nasional
Ia meminta pemerintah segera melakukan mitigasi agar dampak pelemahan rupiah tidak signifikan terhadap inflasi nasional.
Salah satu langkah yang didorong adalah efisiensi biaya logistik untuk membantu pengusaha mengendalikan efek kenaikan harga produksi akibat imported inflation.
Produsen juga perlu diimbau mempertimbangkan kenaikan harga dalam tingkat yang wajar agar tidak memberatkan konsumen.