Inflasi untuk kebutuhan sehari-hari dan umum seperti obat-obatan, tarif taksi, tembakau, dan biaya komunikasi naik 113,8 persen dari tahun sebelumnya.
Lembaga think tank ekonomi swasta Iran, Bamdad Institute of Economic Studies, menyebut angka tersebut sebagai tingkat yang belum pernah terjadi sejak Perang Dunia II.
Rekor sebelumnya terjadi pada 1942, saat Inggris dan Soviet menginvasi Iran dan mengganggu pasokan pangan.
Serangan udara tahun ini telah merusak bisnis dan industri minyak Iran. Blokade AS menargetkan pengiriman minyak mentah Iran ke pasar internasional, sumber pendapatan utama.
Pendapatan pajak tertekan oleh bisnis yang kesulitan meskipun pertempuran mereda.
Mata uang rial, yang pada 2015 bernilai 32.000 per dolar AS, kini diperdagangkan di atas 1,7 juta per dolar AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan harga akan terus naik. "Kami sedang berperang, dan kami harus menerima kesulitan ini," katanya pada Mei.
>>> Dari Perusahaan Hemat ke Pemain AI: Micron Tembus Kapitalisasi Rp16.000 Triliun
Ekonom asal Teheran, Saeed Leilaz, memperingatkan inflasi tahunan Iran bisa mencapai 80 persen. "Masyarakat Iran tidak dapat mentolerir di atas 25 persen" inflasi tahunan, ujarnya.