Center of Reform on Economics (Core) memperkirakan anggaran subsidi berpotensi naik hingga Rp204 triliun jika rata-rata harga minyak Indonesia (ICP) mencapai US$100 per barel.
Angka tersebut sekitar US$30 lebih tinggi dari asumsi APBN tahun ini di level US$70 per barel.
>>> Harga Emas Perhiasan Hari Ini 22 Juli 2026 Naik Tipis, Kembali Dijual Rp2,2 Jutaan per Gram
Ekonom Core Yusuf Rendy Manilet menjelaskan, setiap kenaikan US$1 dari asumsi ICP sebesar US$70 per barel berpotensi menambah penerimaan negara Rp3,5 triliun dan beban belanja negara Rp10,3 triliun.
Dengan demikian, setiap realisasi ICP lebih tinggi US$1 dari asumsi APBN akan menambah beban anggaran sekitar Rp6,8 triliun.
>>> Ekonomika Pancasila: Teori Segala Hal untuk Indonesia
Jika rata-rata ICP mencapai US$90 per barel, tambahan defisit bisa mendekati Rp136 triliun.
Sementara jika rata-rata ICP menyentuh US$100 per barel, tekanannya dapat mencapai sekitar Rp204 triliun.
>>> ESDM Didesak Transparan Soal Skema Impor Minyak Rusia via Lemigas
Pernyataan tersebut disampaikan Yusuf saat dihubungi pada Rabu (22/7/2026).
