Intel menolak berkomentar dan hanya menyatakan terus melanjutkan investasinya di Ohio. Kementerian Perdagangan Korea Selatan menyebut keputusan sepenuhnya ada di tangan SK Hynix.
Namun, jika kesepakatan melibatkan teknologi inti nasional, maka akan tunduk pada peninjauan berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Teknologi Industri Korea Selatan.
Memproduksi semikonduktor di AS jauh lebih mahal dibandingkan di Korea.
SK Hynix belakangan menghadapi tekanan dari pelanggan dan berbagai pemerintah untuk memasok lebih banyak chip di tengah ledakan AI dan kelangkaan chip global.
Pada Juli, Ketua SK Group Chey Tae-won mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya perlu membangun pabrik di Amerika Serikat.
Ia menilai pembangunan itu sebaiknya dilakukan jika memungkinkan.
Sementara itu, pemerintah Korea Selatan mendorong SK Hynix membangun klaster fasilitas chip baru di wilayah barat daya negara itu.
Bulan lalu, perusahaan mengumumkan investasi 38 miliar dolar AS untuk fab DRAM dan NAND baru di Korea.
Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengancam akan memberlakukan tarif 100 persen terhadap perusahaan Korea Selatan dan Taiwan.
Ancaman itu berlaku jika mereka tidak berkomitmen meningkatkan produksi chip di AS.
Kesepakatan antara SK Hynix dan Intel bisa menjadi salah satu cara untuk menghindari tarif tersebut. Hingga kini, belum ada kepastian mengenai arah akhir pembicaraan kedua perusahaan.