Pekerjaannya mendeteksi gelombang kejut dari uji nuklir bawah tanah Korea Utara didanai secara terbuka oleh Departemen Luar Negeri dan Laboratorium Riset Angkatan Udara Amerika Serikat.
Ia menjadi warga negara Amerika Serikat pada 2011 dan menetap di kawasan Boston.
Chen ditangkap oleh petugas keamanan negara China pada 5 November 2024 di Bandara Internasional Beijing saat bersiap terbang pulang setelah mengunjungi keluarga dan memberi kuliah di dua universitas.
Rong mengatakan suaminya telah diinterogasi lebih dari 100 kali.
"Saya tidak bisa membayangkan betapa sulit hidupnya di sana setiap hari," ujarnya.
Ia meyakini China ingin memanfaatkan keahlian suaminya untuk meningkatkan kemampuan menyembunyikan uji nuklir menggunakan teknik decoupling.
Teknik itu melibatkan peledakan perangkat di dalam ruang bawah tanah besar untuk mengurangi ukuran gelombang kejut.
Amerika Serikat menuduh China menggunakan decoupling untuk menyamarkan ledakan uji nuklir berdaya rendah pada 22 Juni 2020.
China, yang seperti Amerika Serikat telah menandatangani namun belum meratifikasi larangan internasional uji nuklir 1996, membantah melakukan uji tersebut.
Pejabat kedutaan Amerika Serikat diizinkan mengunjungi Chen sekitar 30 menit sekali sebulan, selalu dengan kehadiran pejabat China.
Mereka membacakan surat-surat yang ditulis Rong untuknya dan Chen mendiktekan balasannya.
"Mereka mencatat penampilannya, kondisi mentalnya, dan apa pun yang mereka amati," tuturnya.
Rong menambahkan bahwa pengacara China Chen tidak diizinkan mendiskusikan kunjungan tersebut dengannya.
Rong mengkhawatirkan kondisi penahanan suaminya, di mana ia menerima perawatan medis dan makanan di bawah standar.
Chen menderita tekanan darah tinggi dan diabetes.
Ketika ditanya apa yang akan ia katakan kepada suaminya jika bisa bertemu, Rong menjawab, "'Bertahanlah. Tetap optimis.
Banyak orang membantumu. Kamu pasti akan kembali.'"