Pemerintah menyiapkan sejumlah program stimulus ekonomi untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi hingga akhir tahun.
Alokasi anggaran sebesar Rp 17,5 triliun disiapkan untuk penyaluran bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan selama tiga bulan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat desil 1 hingga desil 4.
Pemerintah juga berencana menyalurkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) senilai Rp 300 ribu per bulan selama tiga bulan bagi sekitar 13,3 juta pekerja dengan kebutuhan dana mendekati Rp 12 triliun.
Rencana pembukaan rekening bagi warga negara Indonesia berusia di atas 17 tahun pada kelompok desil 1 hingga desil 4 juga sedang digodok, meski Kementerian Keuangan masih menghitung kebutuhan anggarannya.
Dampak Stimulus bagi Emiten
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengungkapkan program stimulus ekonomi menjadi sentimen positif bagi emiten, terutama bagi perusahaan yang berkaitan langsung dengan konsumsi masyarakat.
"BSU memberikan tambahan disposable income bagi pekerja, sementara bantuan pangan dapat mengurangi sebagian pengeluaran kebutuhan pokok, sehingga masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk melakukan konsumsi lainnya," kata Ekky kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Dampak stimulus terhadap kinerja emiten dinilai Ekky masih cenderung moderat karena lebih berfungsi mempertahankan momentum konsumsi ketimbang memicu lonjakan secara signifikan.
Eskalasi penjualan ritel yang masih terbatas membuat efek stimulus diperkirakan paling cepat terlihat pada sektor consumer staples serta ritel kebutuhan harian, sementara sektor consumer discretionary berdampak lebih terbatas.
Emiten ritel seperti AMRT dan MIDI berpotensi memperoleh manfaat dari stimulus lantaran didukung jaringan toko yang luas serta ragam produk harian.
Tambahan daya beli masyarakat diproyeksikan mampu mempertahankan frekuensi transaksi maupun average basket size pada jaringan ritel tersebut.
Di sektor consumer staples, perusahaan seperti ICBP, INDF, dan MYOR dinilai menarik karena memiliki produk kebutuhan harian, ekosistem jenama yang kuat, serta jaringan distribusi luas.
Perbaikan konsumsi masyarakat memungkinkan emiten-emiten tersebut merasakan dampak positif dalam durasi yang relatif lebih singkat.
Program pembukaan rekening masyarakat desil 1 hingga desil 4 berpeluang mendorong inklusi keuangan serta aktivitas transaksi perbankan, meski mekanismenya masih memerlukan kejelasan.
Ekky mengingatkan investor agar tidak langsung membeli saham hanya karena adanya sentimen stimulus pemerintah tanpa mempertimbangkan faktor fundamental.
"Investor juga perlu melihat apakah stimulus benar-benar diterjemahkan menjadi peningkatan volume penjualan.
Sebab tantangan sektor consumer masih ada, seperti daya beli yang belum sepenuhnya kuat, pelemahan rupiah yang meningkatkan biaya bahan baku impor, serta potensi kenaikan biaya logistik," tambah Ekky.
Strategi akumulasi bertahap pada emiten berfundamental kuat dan bervaluasi menarik lebih disukai dibanding mengejar saham yang harganya sudah melonjak tinggi.
