Nilai tukar rupiah ramai dicari pada Jumat, 30 Oktober 2026, setelah mata uang Garuda dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Penguatan ini terjadi di tengah sentimen global yang campur aduk: dolar AS melemah, tetapi harga minyak dunia justru melonjak.
Mengutip ANTARA, rupiah dibuka naik 14 poin atau 0,08 persen menjadi Rp18.123 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi. Level itu lebih kuat dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di Rp18.137 per dolar AS.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mata uang Asia lainnya yang kompak berada di zona hijau terhadap dolar AS. Won Korea Selatan bahkan tercatat sebagai mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan pada pagi hari, dengan kenaikan 0,32 persen.
Apa yang mendorong rupiah menguat
Salah satu pendorong utama adalah melemahnya indeks dolar AS setelah rilis data inflasi Amerika Serikat. Data pengeluaran konsumsi pribadi atau PCE pada September 2026 naik 0,5 persen secara bulanan dan 3,6 persen secara tahunan, kurang lebih sesuai perkiraan pasar.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan dolar AS itu memberi ruang bagi rupiah untuk menguat tipis. Di sisi lain, ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyebut investor membaca pernyataan Federal Open Market Committee (FOMC) Oktober 2026 sebagai sinyal yang lebih dovish, karena The Fed tidak memberi sinyal jelas soal potensi kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Sebagai latar, The Fed memang mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,75 hingga 4,00 persen pada 28 Oktober waktu Amerika Serikat, sesuai ekspektasi konsensus pasar.
Apa yang menahan penguatan
Meski dibuka menguat, ruang apresiasi rupiah dinilai terbatas. Harga minyak mentah dunia kembali melonjak ke level tertinggi dalam sebulan: WTI naik 1,71 persen ke US$103,74 per barel, sementara Brent naik 1,67 persen ke US$116,8 per barel.
Sentimen pasar saham domestik juga membebani. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok 31,12 poin atau 0,61 persen ke level 5.066 pada Jumat pagi, sehari setelah ditutup melemah 184,25 poin atau 3,49 persen ke 5.098 pada Kamis.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memproyeksikan rupiah bergerak di kisaran Rp18.100 hingga Rp18.200 per dolar AS. Sebagai pembanding, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada 29 Oktober tercatat Rp18.128 per dolar AS, menguat dari Rp18.183 pada perdagangan sebelumnya. Perlu dicatat, kurs yang dipakai masyarakat di bank atau money changer umumnya berbeda dari kurs pasar karena memuat selisih jual-beli, dan angka penutupan hari ini baru bisa dipastikan setelah perdagangan berakhir.