Musim kemarau membuat para petani di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, harus berjuang ekstra. Mereka tak hanya menghadapi kekeringan, tetapi juga harga sayur yang anjlok.
Dadang Kusmawan (56), seorang petani di Kampung Cikarang Mulya, Desa Pasirhalang, mengaku harus membeli air untuk menyelamatkan tanamannya.
Padahal, biasanya aliran air dari pegunungan masih cukup melimpah.
Kawasan Cisarua dikenal sebagai sentra sayuran untuk Bandung Raya dan Jakarta. Namun, kemarau tahun ini membuat biaya produksi membengkak karena petani harus mengeluarkan uang tambahan untuk air.
Harga Sayur Terjun Bebas
Dadang menyebutkan, harga selada yang biasanya Rp5.000-6.000 per kilogram kini hanya Rp2.000. Harga tersebut tak cukup menutup biaya produksi.
"Kami yang susah mencari air, kami juga yang harus menjual murah. Tapi di pasar, harganya tetap tinggi," keluhnya, Rabu (5/8/2026).
Ironi ini terus menghantui petani. Saat mereka berjuang mempertahankan tanaman, keuntungan justru dinikmati rantai distribusi.