Pernikahan antara pria Korea dan perempuan Jepang terus meningkat. Tokyo Shimbun melaporkan tren ini dan menyebut sejumlah faktor di baliknya.
Data pemerintah Korea menunjukkan pernikahan lintas negara melonjak setelah pandemi COVID-19. Angkanya mencapai 1.483 tahun lalu, tertinggi sejak 2000.
Faktor yang disebut antara lain gelombang Korea, keinginan perempuan Jepang tinggal di Korea, dan beban biaya pernikahan di dalam negeri bagi pria Korea.
Minat pada K-pop dan Drama Korea
MoaLove, agensi perjodohan yang fokus pada pernikahan Korea-Jepang, menyebut keanggotaan perempuan Jepangnya berlipat dua tahun ini dibanding tahun sebelumnya.
Agensi itu menyatakan sebagian besar anggotanya tertarik setelah mengenal K-pop dan drama Korea. Banyak pula yang berniat pindah ke Korea setelah menikah.
Media sosial disebut membuat pasangan lintas negara lebih diterima. Aplikasi penerjemah juga membantu mengatasi hambatan bahasa.
Alat itu memungkinkan komunikasi meski pria Korea tidak menguasai bahasa Jepang.
Seorang pekerja lepas Jepang berusia 38 tahun yang berpacaran dengan pria Korea berbagi pengalamannya. Ia menyebut menerima ungkapan kasih sayang setiap hari.
Menurutnya, perlakuan itu membuatnya merasa dihargai. Ia menilai pria Jepang kalah dibandingkan pria Korea dalam hal itu.
Ia juga menyoroti penampilan, usia, dan pendapatan anggota pria Korea di agensi tersebut. Semuanya berbeda dari pria Jepang.
Tokyo Shimbun menyebut kebiasaan tradisional Korea yang mewajibkan calon pengantin pria menyiapkan rumah sebagai beban berat. Kondisi ini mendorong pria Korea mencari pasangan di luar negeri.
Selain itu, pria Korea tertarik pada sifat lembut yang dianggap dimiliki perempuan Jepang.
