Langkah Danantara membeli saham perusahaan milik negara dinilai dapat memperbaiki persepsi investor terhadap emiten BUMN.
Meski begitu, keberlanjutan penguatan harga saham tetap bergantung pada kinerja keuangan, kewajaran valuasi, dan kondisi pasar.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyebut aksi tersebut memberi sentimen positif karena menunjukkan dukungan terhadap saham BUMN yang dinilai memiliki valuasi menarik.
Ia menekankan pembelian yang konsisten dan diikuti peningkatan kinerja bisnis menjadi kunci perbaikan persepsi tersebut.
Fundamental dan valuasi tetap penentu
Dukungan pembelian saham belum cukup memastikan kenaikan harga dalam jangka panjang.
Pertumbuhan laba, prospek dividen, serta pandangan investor asing terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia turut menentukan pergerakan saham.
Ketidakpastian setelah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Nafan menyarankan investor mempertimbangkan indikator keuangan seperti price to book value (PBV), price to earnings ratio (PER), return on equity (ROE), dan kualitas aset perusahaan.
Di sektor perbankan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dinilai menarik karena basis bisnisnya kuat.
BMRI memiliki daya tarik melalui diversifikasi usaha dan profitabilitas, sementara BBRI terkait pemulihan daya beli masyarakat dan kualitas kredit mikro.
Untuk BBNI, peluang pertumbuhan berasal dari segmen korporasi dan komersial.
Di luar perbankan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menawarkan peluang dari bisnis data dan layanan digital.
Adapun PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) memiliki eksposur terhadap emas dan nikel sehingga prospeknya berkaitan dengan harga komoditas dan kebutuhan industri.
Nafan merekomendasikan strategi buy on weakness pada TLKM dan ANTM, yakni pembelian saat harga melemah menuju area yang dinilai menarik.
Untuk TLKM, area masuk disarankan Rp 1.770 hingga Rp 2.000, dengan target harga bertahap Rp 2.060, Rp 2.250, dan Rp 2.450, serta support di Rp 1.770 dan Rp 1.730.
Pada ANTM, area masuk berada di Rp 2.330 hingga Rp 2.630, target harga Rp 2.680, Rp 2.770, dan Rp 3.470, dengan support Rp 2.330 dan Rp 2.200.
Khusus ANTM, perubahan harga emas dan nikel dapat memengaruhi prospeknya, sementara volatilitas komoditas membuat risikonya relatif lebih tinggi.
Katalis dan risiko yang membayangi
Keberlanjutan pembelian Danantara, perbaikan laporan keuangan emiten, prospek dividen, dan kemungkinan penurunan suku bunga menjadi faktor pendukung saham BUMN.
Sebaliknya, ketidakpastian MSCI, arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, dan gejolak pasar global dapat menekan pergerakan harga.
Besarnya dampak pembelian Danantara juga ditentukan oleh nilai transaksi dibandingkan rata-rata volume perdagangan harian, kesinambungan aksi beli, dan tanggapan pelaku pasar lain.
Karena itu, pembelian institusi tersebut lebih tepat dipandang sebagai faktor pendukung tambahan, bukan kepastian harga saham akan terus naik.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana sependapat bahwa pembelian Danantara dapat memperbaiki sentimen terhadap saham perusahaan negara.
Namun, ia menilai penguatan harga perlu disertai kondisi bisnis yang sehat.
Hendra menyoroti BMRI, BBRI, dan BBNI sebagai saham perbankan yang patut diperhatikan, TLKM yang menawarkan eksposur telekomunikasi dan digital, serta ANTM yang berpotensi didukung sentimen ketika prospek emas dan nikel membaik.
Menurutnya, harga saham yang terlihat murah tidak otomatis menjadi peluang investasi.
Penilaian tersebut tetap perlu didukung kualitas aset yang memadai dan kemampuan perusahaan mencetak laba.
Dengan demikian, keputusan berinvestasi pada saham BUMN perlu mempertimbangkan lebih dari sekadar aksi pembelian Danantara.
Fundamental perusahaan, valuasi, potensi dividen, dan risiko eksternal tetap menjadi unsur penting dalam menilai prospek setiap emiten.