Sebagian orang dewasa di Amerika Serikat mulai menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendapatkan panduan finansial. Namun, AI masih jauh dari sumber nasihat yang paling dipercaya.
Temuan ini berdasarkan survei terbaru dari Gallup yang dilakukan bersama Edward Jones, sebuah perusahaan jasa keuangan.
>>> Kursi Jaksa Agung AS Terancam, Murkowski Tolak Blanche
Sekitar 1 dari 5 orang Amerika yang mencari nasihat keuangan dalam setahun terakhir beralih ke AI.
Meski begitu, hanya sekitar 3 dari 10 orang dewasa di AS yang memiliki kepercayaan 'besar' atau 'cukup' pada keahlian AI dalam mengelola uang.
Bahkan, hanya 3 persen yang sangat percaya pada AI.
Kesenjangan antara Kepercayaan dan Penggunaan
Survei yang dilakukan pada musim semi ini mengamati pandangan orang dewasa berusia minimal 21 tahun. Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan antara sumber yang dipercaya dan yang benar-benar digunakan.
Sekitar 8 dari 10 orang dewasa AS memiliki setidaknya 'sedikit' kepercayaan pada penasihat keuangan profesional. Namun, hanya sekitar sepertiga yang benar-benar menggunakan jasa mereka.
Sebaliknya, 73 persen responden mengaku mengandalkan riset internet mereka sendiri. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan yang menggunakan penasihat profesional.
Saran Ahli tentang Penggunaan AI
Para ahli keuangan mengingatkan agar konsumen berhati-hati dalam mempercayai sepenuhnya alat AI.
Taha Choukhmane, profesor madya di MIT Sloan School of Management, menyarankan penggunaan AI sebagai alat bantu awal.
Menurutnya, menggabungkan pengetahuan dari AI dengan sumber terpercaya lainnya adalah cara terbaik. "Saya mendorong orang untuk menggunakan AI untuk menjelaskan dan mendefinisikan," ujarnya.
>>> Ratusan Batang Besi di Serang Dicuri, Pemilik Rugi Rp135 Juta
Choukhmane mencontohkan, AI sangat berguna untuk memahami konsep seperti perbedaan antara reksa dana dan indeks. Dengan begitu, orang bisa lebih memahami metode-metode tersebut.
