unique visitors counter
⌂ Beranda News Lesunya Penjualan Bendera Jelang HUT ke-81 RI, Pengamat: Daya Beli Masyarakat Menurun

Lesunya Penjualan Bendera Jelang HUT ke-81 RI, Pengamat: Daya Beli Masyarakat Menurun

Lesunya Penjualan Bendera Jelang HUT ke-81 RI, Pengamat: Daya Beli Masyarakat Menurun
A A Ukuran Teks16px

Penjualan bendera Merah Putih dan pernak-pernik kemerdekaan yang dijual pedagang musiman jelang HUT ke-81 RI lesu.

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai hal ini tidak semata-mata berkaitan dengan berkurangnya semangat nasionalisme, tetapi dipengaruhi lemahnya daya beli masyarakat.

>>> Penjualan Anjlok 60 Persen, Pedagang Bendera Musiman di Bogor Resah Jelang HUT ke-81 RI

Ibrahim membeberkan bahwa bendera dan umbul-umbul bukan barang yang dibeli masyarakat setiap tahun.

Setelah digunakan selama perayaan kemerdekaan, barang tersebut umumnya dicuci, dirapikan, lalu disimpan untuk digunakan kembali pada tahun berikutnya.

"Kalau yang saya tahu, masyarakat ini membeli satu kali untuk selamanya.

Pengurus RW, RT, mereka membeli karena setiap awal Agustus harus memasang bendera dan umbul-umbul, tetapi belinya cuma sekali dan dipakai berulang-ulang," kata Ibrahim kepada Poskota, Sabtu, Agustus 2026.

Menurut Ibrahim, kondisi serupa juga terjadi pada masyarakat umum.

Bendera yang telah digunakan pada perayaan 17 Agustus biasanya masih dalam kondisi layak pakai sehingga tidak ada kebutuhan mendesak untuk kembali membeli pada tahun berikutnya.

"Kalau saya pun sama, saya membeli bendera sekali. Setelah selesai tanggal 30 Agustus, dicuci, digosok, disimpan lagi.

>>> AS Tarik Kapal Induk Terakhir dari Asia saat Trump Fokus pada Iran

Nah, ini yang membuat masyarakat tidak melakukan pembelian, apalagi untuk bendera dan umbul-umbul," ujarnya.

Daya Beli dan Prioritas Kebutuhan

Di sisi lain, Ibrahim menilai kondisi ekonomi turut memengaruhi antusiasme masyarakat dalam menyambut perayaan kemerdekaan.

Ia menyoroti kebutuhan rumah tangga menjadi prioritas saat daya beli lesu, sehingga pembelian pernak-pernik Agustus tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan utama.

"Bagaimana membicarakan nasionalisme kalau perutnya lapar. Kalau dalam kondisi perut lapar, kemudian bicara nasionalisme tidak akan berjalan.

Kalau perutnya kenyang, kemudian barulah kita berbicara tentang masalah nasionalisme," ucapnya.

Ia juga menyoroti suasana perayaan 17 Agustus di sejumlah lingkungan yang dinilainya tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, termasuk semakin banyak permukiman tidak memasang bendera.

Minimnya dukungan anggaran untuk kegiatan perayaan di tingkat masyarakat turut berdampak pada pedagang bendera yang mengandalkan momentum Agustus untuk memperoleh penghasilan.

>>> Harapan Menipis di Kolombia, Korban Gempa 7,4 M Terus Berjatuhan

"Penjual-penjual bendera di daerah saya pun juga kasihan sekali, tidak ada yang membeli. Apalagi di wilayah-wilayah perkampungan, saya melihat tidak ada sama sekali yang memasang bendera," tuturnya.

R
Tim Redaksi
Penulis: Retno Widyawati
📰 Update Terbaru
stikibot