Pada masa paling ketat, teokrasi Iran mewajibkan perempuan mengenakan syal penutup rambut dan pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh.
Polisi moral di jalanan telah mendenda, melecehkan, atau menangkap perempuan yang melanggar aturan.
Namun selama satu dekade terakhir, banyak perempuan menantang batas tersebut. Mereka menggeser syal untuk memperlihatkan lebih banyak rambut dan mengenakan pakaian yang lebih ketat.
Sejak 2022, banyak yang berhenti memakai hijab sepenuhnya. Bahkan lebih baru, perempuan di beberapa bagian Teheran memperlihatkan lengan, kaki, atau perut mereka.
Dalam tulisan yang diterbitkan Rabu, empat tahun setelah kematian Amini, surat kabar garis keras yang diawasi pemimpin tertinggi menyebut pelepasan hijab telah berkembang menjadi "promosi ketelanjangan dan permisifisme".
Laporan di Kayhan menyebutnya sebagai "ancaman keamanan".
Laporan itu menambahkan bahwa kepala yudikatif, Gholamhossein Mohseni-Ejei, menyerukan "tindakan bijak dan mendesak" soal hijab.
Kaum garis keras menggelar unjuk rasa malam di seluruh negeri yang dihadiri perempuan berpakaian hitam konservatif dan penutup kepala.
Namun bahkan di sana, beberapa perempuan tanpa hijab masih terlihat.
Garis Keras versus Pragmatis
Aturan hijab menjadi isu yang memecah kaum pragmatis dan garis keras di dalam teokrasi Iran.
Isu ini mirip dengan pertanyaan apakah akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat atau meningkatkan perang.
Banyak seruan untuk menegakkan aturan hijab datang dari tokoh yang terkait dengan kantor pemimpin tertinggi. Namun tidak diketahui apakah itu mencerminkan sikap Khamenei.
Pemimpin tertinggi belum muncul di publik, juga tidak merilis rekaman audio atau video, sejak menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Israel pada 28 Februari.
Khamenei senior lama menyerukan penegakan tegas soal hijab.