Setiap manusia pasti melewati masa-masa sulit dalam hidupnya, entah soal rezeki yang menyempit, keluarga yang sedang diuji, atau kesehatan yang menurun. Khutbah Jumat edisi 6 November 2026 mengajak jemaah melihat ujian itu bukan semata beban, melainkan jalan untuk meraih kesabaran yang justru bisa dinikmati.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Marilah kita bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, karena takwa adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan.
Hadirin jemaah Jumat yang berbahagia. Allah SWT telah menegaskan bahwa ujian adalah keniscayaan bagi setiap hamba. Dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 155, Allah berfirman yang artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa bentuk ujian bisa bermacam-macam. Ada kalanya berupa rasa takut, kekurangan pangan, harta yang berkurang, kehilangan orang tercinta, hingga hasil usaha yang tidak sesuai harapan. Namun di ujung ayat itu, Allah justru memberi kabar gembira — kabar yang tidak diberikan kepada orang yang mengeluh, melainkan kepada orang-orang yang sabar.
Pertama, Memaknai Sabar sebagai Ibadah
Cara pertama agar kesabaran terasa nikmat adalah menyadari bahwa sabar adalah ibadah. Bersabar bukan pilihan, melainkan perintah Allah SWT kepada hamba-Nya. Ketika seseorang sadar bahwa kesabarannya adalah bentuk ketaatan, maka menunggu dan menahan diri tidak lagi terasa menyiksa.
Bahkan, sabar disebut sebagai pemberian terbaik dan terluas yang dianugerahkan Allah kepada seseorang. Artinya, setiap detik yang dilalui dengan kesabaran bernilai pahala di sisi-Nya.
Kedua, Melihat Ujian sebagai Kasih Sayang
Cara kedua adalah memandang ujian sebagai wujud kasih sayang Allah. Ujian tidak diberikan secara sia-sia; di baliknya ada perhatian Allah kepada hamba-Nya, sekaligus cara untuk menghapus dosa-dosa.
Rasulullah SAW bersabda bahwa tidaklah seorang muslim tertimpa musibah, penyakit, atau kesulitan lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya seperti daun-daun yang berguguran dari pohonnya. Dengan cara pandang seperti ini, musibah tidak lagi hanya melahirkan keluhan, tetapi juga harapan akan ampunan.
Ketiga, Menengok yang Lebih Berat Ujiannya
Cara ketiga, tengoklah orang-orang yang ujiannya jauh lebih berat daripada kita. Mengeluh memang manusiawi, tetapi ketika kita menyadari masih banyak orang yang memikul beban lebih besar, keluhan itu perlahan berkurang dan berganti menjadi rasa syukur.
Hadirin yang dimuliakan Allah. Kesabaran tidak datang begitu saja. Ia lahir dari cara pandang bahwa ujian adalah bentuk kasih sayang Allah. Siapa yang mampu memandangnya demikian, hatinya akan menjadi tenang, dan persoalan sebesar apa pun dapat dihadapi dengan penuh kedamaian. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang sabar dalam setiap keadaan. Amin.